A. Pengertian Menstruasi
Menstruasi
adalah pendarahan periodik pada uterus yang dimulai sekitar 14 hari setelah
ovulasi (Bobak, 2004). Menstruasi adalah pendarahan vagina secara berkala
akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal
merupakan hasil interaksi antara hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan
perubahan-perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi
normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya
bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan-perubahan siklik maupun lama
siklus menstruasi (Greenspan, 1998).
Usia normal bagi
seorang wanita mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya pada usia 12 atau
13 tahun. Tetapi ada juga yang mengalaminya lebih awal, yaitu pada usia 8 tahun
atau lebih lambat pada usia 18 tahun. Menstruasi akan berhenti dengan
sendirinya pada saat wanita sudah berusia 40-50 tahun, yang dikenal dengan
istilah menopouse. Setelah mengalami menstruasi biasanya terlihat perubahan
fisik seorang wanita seperti pada pinggul dan payudaranya.
Untuk dapat
terjadi menstruasi maka perlu adanya fungsi vagina, rahim, indung telur dan
adanya hubungan yang sinergis dari hipotalamus-susunan syaraf pusat dengan
indung telur. Hubungan ini digambarkan dengan terciptanya kekompakan sistem
kerja hormon dalam tubuh sorang perempuan terutama hormon steroid (estrogen dan
progesteron).
Seorang
perempuan mempunyai dua indung telur atau disebut ovarium. Secara
periodik setiap satu siklus kira-kira pada hari ke 14 ada salah satu sel telur
matang yang dilepaskan dari indung telur. Bila tidak ada petemuan sel sperma
dan sel telur maka pembuahan tidak terjadi. Karena sel telur tidak dibuahi
akan menyebabkan dinding rahim meluruhkan lapisan endometrium, terjadilah
menstruasi.
B. Gejala
pada Menstruasi
a.
Gejala klinis
Gejala klinis
dismenorea primer dapat berupa nyeri yang bersifat kolik. Nyeri dirasakan
sebagai kram yang hilang timbul atau
sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat
sebelum atau selama menstruasi, mencapai
puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang dan dapat
bersamaan dengan mual,muntah,diare,sakit kepala, dan keluhan psikis (sensitif),
low back pain, nyeri paha di medial atau anterior. Secara khas onset dalam 6-12
bulan setelah menarch, nyeri pelvis atau perut bawah dimulai dengan onset haid
dan berahkir selama 8-72 jam (smith 2004).
Nyeri dengan pola yang
berbeda di dapatkan pada dismenorea sekunder yang terbatas pada onset haid. Ini
biasanya berhubungan dengan perut besar/kembung (abdominal bloating). Pelvis
terasa berat dan nyeri punggung. Secara khas, nyeri meningkat secara progresif
selama fase luteal sampai memuncak sekitar onset haid (smith 2004).
b.
Gejala umum
Terdapat kurang lebih
200 gejala yang dihubungkan dengan PMS namun gejala yang paling sering
ditemukan adalah iritabilitas (mudah tersingung) dan disforia (perasaan sedih).
Gejala mulai dirasakan 6-10 hari menjelang menstruasi berupa gejala fisik
maupun psikis yang menggangu aktivitas sehari-hari dan menghilang setelah
menstruasi. Gejala sindroma premenstruasi meliputi gejala fisik, emosi dan
perilaku. Gejala fisik diantaranya lekas
letih,pegal,linu jerawat, nyeri pada kepala, punggung perut bagian bawah, nyeri
pada payudara gangguan saluran cerna (rasa penuh/kembung) diare, perubahan
nafsu makan, sering merasa lapar.
Gejala
emosi dan perilaku mood menjadi labil , mudah tersinggung depresi,kecemasan,
gangguan konsentrasi , insomnia. Tidak semua tanda dan gejala diatas selalu
muncul, namun wanita dikategorikan mengalami sindroma premenstruasi
jikadidapatkan satu gejala emosi dan satu gejala fisik yang dialami saat
premenstruasi (6-10) hari menjelang menstruasi) setidaknya dua siklus berturut
turut, berdampak negatif terhadap aktivitas harian, dan gejala menghilang
setelah menstruasi berahkir. Kenali gejalanya dan jagalah kesehatan tubuh agar
tidak drop saat menstruasi, sebab, tubuh wanita akan menjadi tidak setabil saat
dia mengalami menstruasi sehingga rentan terhadap berbagai penyakit.
C.
Fisiologi Menstruasi
Pada setiap siklus menstruasi,
FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan folikel-folikel di
dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang
namun dapat berkembang menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang
menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi
FSHsehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon
LH maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan
hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik
estrogen terhadap hipotalamus. Produksi hormone gonadotropin (FSH dan LH) yang
baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung
estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh
LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi
terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah
pengaruh hormon LH dan LRH, Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka
korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan
progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan
pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut menstruasi. Apabila terdapat
pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan (Novaks
Gynecology, 1996).
Menarche adalah saat
haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari
serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang
menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil. Namun perlu
diingat bahwa jiwa remaja masih belum stabil dan belum mampu mandiri secara
ekonomi maupun sosial. Jadi ia belum siap untuk hamil, yang terbaik adalah
remaja putri mempersiapkan diri untuk mandiri, mencapai tingkat pendidikan yang
diwajibkan yaitu paling sedikit 9 tahun, memasuki pernikahan yang direstui
orang tua dan masyarakat, kemudian merencanakan kehamilan pada usia 20-30
tahun. Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara
usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan
bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum (Sarwono, 2005).
D. Siklus Menstruasi
1.
Siklus Ovarium
a.
Fase folikel
Siklus diawali dengan hari pertama
menstruasi atau lepasnya endometrium. Folicle Stimulating Hormone (FSH) merangsang
beberapa pertumbuhan folikle premordial dalam ovarium dan hanya satu yang terus
berkembang dan menjadi folicle de Graaf yang lain berdegenerasi. Lapisan dalam
folikle mensintesis progresteron dan sebagai prekursor pada sintesis estrogen.
Dalam folikle, oosit primer menjalani proses pematangan. Pada waktu yang sama,
folikle yang sedang berkembang menskresi estrogen lebih banyak. Kadar estrogen
yang meningkat menyebabkan pelepasan luteinizing hormone releasing hormone
(LHRH) melalui umpan positif.
b.
Fase luteal
Dimulai setelah ovulasi berakhir
pada awal menstruasi. Fase pasca ovulasi pada siklus ovarium biasanya
berlangsung 14 hari (13-15 hari). Korpus luteum mencapai puncak aktivitas
fungsional 8 hari setelah korpus luteum terus mensekresi sejumlah kecil
estrogen dan progesteron yang makin lama makin tinggi. Luteinizing Hormone
(LH) merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Kadar estrogen yang tinggi
kini menghambat produksi FSH. Kemudian kadar estrogen mulai menurun. Saat oosit
lepas dari folikel de Graaf, lapisan granulosa banyak mengandung pembuluh darah
dan terluteinisasi berubah menjadi korpus luteum yang berwarna kuning pada
ovarium. Bersamaan dengan waktu fungsi luteal puncak ini, telur yang dibuahi
bernidasi di endometrium. Apabila tidak terjadi implantasi, korpus luteum
berkurang dan kadar steroid menurun. Dua minggu setelah ovulasi, jika tidak
terjadi fertilisasi dan implantasi, lapisan fungsional endometrium uterus
tanggal selama fase haid berikutnya.
2.
Siklus Endometrium
Siklus
menstruasi terdiri dari empat fase yaitu:
a.
Fase proliferasi
Setelah haid, endometrium dalam
keadaan tipis dan dalam stadium istirahat sekitar 5 hari. Fase proliferasi
merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung sejak sekitar hari kelima
hingga ovulasi, misal hari ke 10 siklus 24 hari, hari ke 14 untuk siklus 28
hari, atau 18 hari pada siklus 32 hari. Kadar estrogen yang meningkat dari
folikel yang berkembang akan merangsang stroma endometrium untuk mulai tumbuh
dan menebal, kelenjar menjadi hipertropi dan berproliferasi dan pembuluh darah
menjadi banyak sekali. Fase proliferasi tergantung pada stimulasi estrogen yang
berasal dari folikel ovarium (graaf). Lamanya proliferasi sangat berbeda pada
tiap orang dan berakhir pada saat terjadinya ovulasi.
b.
Fase sekresi
Berlangsung sejak hari ovulasi
sampai sekitar tiga hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Setelah
ovulasi, dibawah pengaruh hormon progesteron yang meningkat dan terus
diproduksinya estrogen oleh luteum, maka endometrium menjadi tebal. Stroma
menjadi edematus. Terjadi pula infiltrasi leukosit yang banyak, dan pembuluh
darah semakin melebar dan merupakan tempat yang tepat untuk melindungi dan
memberi nutrisi ovum yang sudah dibuahi. Implantasi (nidasi) ovum yang dibuahi
terjadi sekitar tujuh sampai sepuluh hari setelah ovulasi. Apabila tidak
terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang mensekresi estrogen dan
progesteron akan menyusut dan menyebabkan spasme pada arteri spiral. Lamanya
fase sekresi sama pada setiap wanita yaitu 14 ±2 hari.
c.
Fase iskemi
Suplai darah ke endometrium
fungsional berhenti dan terjadi nekrosis, lapisan fungsional terpisah dari
lapisan basal dan peredaran haid dimulai, menandai hari pertama haid siklus
berikutnya. Perubahan iskemik terjadi pada areteriola dan diikuti dengan haid.
d. Fase haid
Korpus luteum berfungsi sampai
kira-kira hari ke 23 atau ke 24 pada siklus 28 hari dan kemudian berdegerasi.
Akibatnya terjadi penurunan yang tajam dari progesteron dan estrogen sehingga
menghilangkan perangsangan pada endometrium.
Perubahan pada siklus menstruasi
Apabila sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium berfungsi
dengan baik, jaringan lain mengalami respon yang dapat digunakan sebagai
prediksi. Misalnya:
1.
Sebelun ovulasi: suhu basal wanita
lebih rendah, sering kali dibawah 37°C
- Setelah
ovulasi seiring peningkatan kadar progesteron, suhu basal meningkat
3.
Lendir pra-pasca ovulasi lengket
sehingga menghambat penetrasi sperma
4.
Pada saat ovulasi lendir menjadi
jernih dan cair, lendir terlihat, teraba dan meregang seperti putih telur (spinnbarkheit)
5.
Saat ovulasi beberapa wanita
mengalami nyeri abdomen terlokasisasi yang disebut mittelachmerz
E. Gangguan Menstruasi
1.
Pre menstruasi syndrome (PMS)
Gejala pre-menstruasi, dapat
menyertai sebelum atau saat menstruasi, antara lain: Perasaan malas bergerak,
badan menjadi lemas, serta mudah merasa lelah, nafsu makan meningkat dan suka
makan makanan yang rasanya asam, emosi menjadi labil, mudah uring-uringan,
sensitive dan perasaan-perasaan negative, kram perut (dismenorrhoe), kepala
nyeri, pingsan, berat badan tambah, karena tubuh menyimpan air dalam jumlah
yang banyak, pinggang terasa pegal.
2.
Dismenorea
Dismenorea disebut juga
dengan kram menstruasi atau nyeri menstruasi. Dalam bahasa inggris dismenorea
sering disebut juga sebagai “painful period” atau menstruasi yang menyakitkan
(American Collage of Obstetritians and Gynecologist, 2015). Nyeri menstruasi
terjadi terutama di perut bagian bawah, tetapi dapat membayar hingga ke
punggung bagian bawah, pinggang , panggul, paha atas hingga betis. Nyeri juga
bisa disertai dengan kram perut yang parah.
Proses ini sebenarnya
merupakan bagian normal proses menstruasi, dan biasanya mulai dirasakan ketika
mulai perdarahan dan terus berlangsung hingga 32-48 jam. Sebagian besar
perempuan yang menstruasi pernah mengalami dismenorea dalam derajat yang
berbeda-beda. Kebanyakan dialami oleh remaja yang disebabkan bukan karena
penyakit yang disebut dengan Dismenorea Primer. Dismenorea primer pada
perempuan yang sudah dewasa biasanya akan semakin berkurang rasa sakit dan
nyerinya. Dismenorea primer juga makin berkurang pada perempuan yang sudah
melahirkan.
Dismenorea yang
disebabkan karena penyakit disebut dengan dismenorea sekunder. Pada wanita tua
dismenorea dapat disebabkan oleh penyakit tertentu seperti fibrido uteru,
radang panggul, dan kehamilan ektopik. Rasa sakit pada dismenorea sekunde
biasanya berlangsung lebih lama dari dismenorea primer. Dimulai dari beberapa
sebelum menstruasi dan akan hilang beberapa hari setelah menstruasi sudah
selesai.
3.
Amenorea
Amenorea adalah keadaan
dimana menstruasi berhenti atau tidak terjadi pada masa subur atau pada saat
yang seharusnya menstruasi terjadi menstruasi secara teratur. Hal ini tentu
saja tidak termasuk berhenti pada wanita yang sedang hamil, menyusui, atau menopause.
Amenorea dibedakan
menjadi dua, yaitu amenorea primer dan sekunder. Amenorea primer adalah istilah
yang digunakan untuk perempuan yang terlambat mulai menstruasi. Biasanya
seorang perempuan mulai menstruasi mulai umur 10 tahun hingga 16 tahun, jika usianya
sudah 16 tahun dan tidak menstruasi maka disebut dengan amenorea primer. Hal
ini dapat terjadi akrena kelainan hormonal, gangguan kesehatan fisik atau
masalah tekanan jiwa dan emosi.
Amenorea sekunder
adalah berhenti menstruasi paling tidak selama 3 bulan berturut-turut, padahal
sebelumnya sudah pernah mengalami menstruasi. Dapat disebabkan oleh rendahnya
hormon pelepas gonadotropin yang salah satu fungsinya untuk mengatur siklus
menstruasi. Di samping itu dapat disebabkan oleh stress, anoreksia, penurunan
berat badan, olahrag berat, pil KB dan kista ovarium.
4.
Polimenorea
Polimenorea merupakan
kelainan siklus menstruasi yang menyababkan wanita berkali-kali mengalami
menstruasi dalam sebulan bisa 2-3 kali/bulan bahkan bisa lebih. Normalnya,
siklus menstruasi berlangsung selama 21-35 hari dengan durasi sekitar 2-8 hari.
Wanita yang mengalami polimenorea memiliki siklus menstruasi yang lebih pendek
dari 21 hari dengan pola teratur dan jumlah perdarahan lebih banyak dari
biasanya.Polimenorea bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan sistem hormonal
pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Ketidakseimbangan hormon tersebt
dapat menyebabkan gangguan pada waktu ovulasi.
5.
Menoragia
Menoragia adalah
perdarahan menstruasi berlebihan. Dalam satu siklus menstruasi normal,
perempuan rata-rata kehilangan sekitar 30-40 ml darah selama 5-7 hari haid.
Bila perdarahan melampaui 7 hari atau terlalu deras (melibihi 80ml), maka
dikategorikan menoragia atau mentruasi berat (Marret et al, 2010).
Menentukan berapa anyakdarah yang
dikeluarkkan saat haid tentunya tidaklah mudah untuk kalangan orang awam, namum
untuk memudahkan nya maka harus memperhatikanlah indikasi-indikasi tertentu
seperti banyak jumlah pembalut yang dipakai. Menstruasi dianggap berat jika
anda harus mengganti pembalut setiap jam atau setiap jam berturut-turt. Gejala
lain dari menstruasi berlebihan dapat mencakup perdarahan pada malam hari,
adanya gumpalan darah besar saat menstruasi, haid berlangsung lebih dari tuujuh
hari. Kehilangan darah dari menstruasi berlebihan dapat menyebabkan anemia
serta gejala seperti kelelahan dan sesak nafas.
F. Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi
Banyak penyebab kenapa siklus
menstruasi menjadi panjang atau sebaliknya pendek menurut (Kusmiran, 2011;
Proverawati dan Misaroh, 2009) yaitu:
1.
Fungsi hormon terganggu yaitu
menstruasi terkait erat dengan sistem hormon yang diatur di otak, tepatnya di
kelenjar hipofisis. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur
untuk memproduksi sel telur.
2.
Kelainan sistemik yaitu ada wanita
yang tubuhnya sangat gemuk dan kurus. Hal ini mempengaruhi siklus menstruasinya
karena sistem metabolisme di dalam tubuhnya tidak bekerja dengan baik atau
wanita menderita penyakit diabetes, juga akan mempengaruhi sistem metabolisme
wanita sehingga siklus menstruasinya pun tidak teratur.
3.
Stress, jangan dianggap enteng
sebab akan menggangu sistem metabolisme didalam tubuh. Bisa saja karena stres,
wanita jadi mudah lelah, sehingga metabolismenya terganggu. Bila metabolisme
terganggu, siklus menstruasi pun ikut terganggu.
4.
Hormon prolaktin berlebihan pada
ibu menyusui, produksi hormon prolaktinnya cukup tinggi. Hormon prolaktin ini
sering kali membuat ibu tidak kunjung menstruasi karena memang hormon ini
menekan tingkat kesuburan ibu. Pada kasus ini tidak masalah, justru sangat baik
untuk memberikan kesempatan pada ibu guna memelihara organ reproduksinya.
Sebaliknya, jika tidak sedang menyusui, hormon prolaktin juga bisa tinggi,
biasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam
kepala.
5.
Berat badan dan perubahan berat
badan memengaruhi fungsi menstruasi. Penurunan berat badan akut dan sedang
menyebabkan gangguan pada ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium dan
lamanya penurunan berat badan. Kondisi patologis seperti berat badan yang kurus
dan anorexia nervosa yang menyebabkan penurunan berat badan, yang paling berat
dapat menimbulkan amenorea.
6.
Tingkat aktivitas fisik yang
sedang dan berat dapat membatasi fungsi menstruasi. Wanita yang berpartisipasi
dalam olahraga kompetitif memiliki resiko yang tinggi terjadinya atau
berkembangnya gangguan makan, iregularitas siklus menstruasi dan osteoporosis.
Olahraga berlebih dapat menyebabkan terjadinya gangguan disfungsi hipotalamus
yang menyebabkan gangguan sekresi GnRH. Hal tersebut menyebabkan terjadinya
menarche yang tertunda dan gangguan siklus menstruasi.
7.
Diet dapat memengaruhi fungsi
menstruasi. Vegetarian berhubungan dengan anovulasi, penurunan respons hormone
pituitary, fase folikel yang pendek,
tidak normalnya siklus menstruasi (kurang dari 10 kali/tahun). Diet rendah
lemak berhubungan dengan panjangnya siklus menstruasi dan periode perdarahan.
Diet rendah kalori seperti daging merah dan rendah lemak berhubungan dengan
amenorea.
8.
Adanya penyakit-penyakit endokrin
seperti diabetes, hipertiroid, serta hipertiroid yang berhubungan dengan
gangguan menstruasi. Prevalensi amenorea dan oligomenorea lebih tinggi pada
pasien diabetes. Penyakit polystic ovarium berhubungan dengan obesitas,
resistensi insulin, dan oligomenorea. Amenorea dan oligomenorea pada perempuan
dengan penyakit polystic ovarium berhubungan dengan insensitivitas hormone
insulin dan menjadikan perempuan tersebut obesitas. Hipertiroid berhubungan
dengan oligomenorea dan lebih lanjut menjadi amenorea. Hipotiroid berhubungan
dengan polimenorea dan menoraghia.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Menstruasi adalah pendarahan vagina
secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Ada beberapa
gangguan menstruasi yaitu dismenorea,
amenorea,polimenorea, dan menoragia. Siklus menstruasi ada beberapa yatu siklus
ovarium, fase luteal, dan siklus endometrium, sedangkan fase-fasenya ada
beberapa yaitu fase proliferasi, fase sekresi, fase iskemi dan fase haid.
Gejala-gejala menstruasi adalah mudah tersinggung, perasaan sedih, emosi,
perubahan perilaku.
B.
Saran
Saran
yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah:
1.
Kepada setiap perempuan, agar
selalu memperhatikan siklus haidnya untuk menghindari terjadinya
gangguan-gangguan yang berhubungan dengan haid.
2.
Untuk menghindari terjadinya
sindrom pra-haid, setiap perempuan dianjurkan untuk melakukan
perubahan-perubahan diet atau mengatur pola makan.
3.
Kepada setiap orang tua, terutama
orang tua perempuan agar dapat menjelaskan tentang haid kepada anak-anaknya sedini
mungkin untuk mengurangi rasa takut yang sering dialami oleh anak-anak ketika
menghadapi menarche (haid yang pertama kali datang).
4.
Kepada tenaga kesehatan, agar
dapat menjelaskan mengenai segala hal yang berhubungan dengan haid, terutama
gangguan-gangguan selama haid.
DAFTAR PUSTAKA
Sukarni, icemi. Wahyu P. 2013. Buku
Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Indriyani, Diyan. 2013. Keperawatan
Maternitas pada Area Perawatan Antenatal. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Masturi. 2017. Hubungan Tingkat Stres Dengan Siklus
Menstruasi Pada Mahasiswi Keperawatan Semester VIII UIN Alaudin Makassar. Skripsi. Yogyakarta: FKIK UIN Alaudin Makassar.
Sinaga, Ernawati, Nonon Saribanon,
dkk, 2017, Managemen Kesehatan
Menstruasi. Jakarta:Global one.