Thursday, April 18, 2019

Menstruasi



A.      Pengertian Menstruasi
Menstruasi adalah pendarahan periodik pada uterus yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi (Bobak, 2004). Menstruasi adalah pendarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan-perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi (Greenspan, 1998).
Usia normal bagi seorang wanita mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya pada usia 12 atau 13 tahun. Tetapi ada juga yang mengalaminya lebih awal, yaitu pada usia 8 tahun atau lebih lambat pada usia 18 tahun. Menstruasi akan berhenti dengan sendirinya pada saat wanita sudah berusia 40-50 tahun, yang dikenal dengan istilah menopouse. Setelah mengalami menstruasi biasanya terlihat perubahan fisik seorang wanita seperti pada pinggul dan payudaranya.
Untuk dapat terjadi menstruasi maka perlu adanya fungsi vagina, rahim, indung telur dan adanya hubungan yang sinergis dari hipotalamus-susunan syaraf pusat dengan indung telur. Hubungan ini digambarkan dengan terciptanya kekompakan sistem kerja hormon dalam tubuh sorang perempuan terutama hormon steroid (estrogen dan progesteron).
Seorang perempuan mempunyai dua indung telur atau disebut ovarium. Secara periodik setiap satu siklus kira-kira pada hari ke 14 ada salah satu sel telur matang yang dilepaskan dari indung telur. Bila tidak ada petemuan sel sperma dan sel telur maka pembuahan tidak terjadi. Karena sel telur tidak dibuahi akan menyebabkan dinding rahim meluruhkan lapisan endometrium, terjadilah menstruasi.

B.      Gejala pada Menstruasi
a.        Gejala klinis
Gejala klinis dismenorea primer dapat berupa nyeri yang bersifat kolik. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang  timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum  atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang dan dapat bersamaan dengan mual,muntah,diare,sakit kepala, dan keluhan psikis (sensitif), low back pain, nyeri paha di medial atau anterior. Secara khas onset dalam 6-12 bulan setelah menarch, nyeri pelvis atau perut bawah dimulai dengan onset haid dan berahkir selama 8-72 jam (smith 2004).
Nyeri dengan pola yang berbeda di dapatkan pada dismenorea sekunder yang terbatas pada onset haid. Ini biasanya berhubungan dengan perut besar/kembung (abdominal bloating). Pelvis terasa berat dan nyeri punggung. Secara khas, nyeri meningkat secara progresif selama fase luteal sampai memuncak sekitar onset haid  (smith 2004).
b.        Gejala umum
Terdapat kurang lebih 200 gejala yang dihubungkan dengan PMS namun gejala yang paling sering ditemukan adalah iritabilitas (mudah tersingung) dan disforia (perasaan sedih). Gejala mulai dirasakan 6-10 hari menjelang menstruasi berupa gejala fisik maupun psikis yang menggangu aktivitas sehari-hari dan menghilang setelah menstruasi. Gejala sindroma premenstruasi meliputi gejala fisik, emosi dan perilaku. Gejala fisik diantaranya  lekas letih,pegal,linu jerawat, nyeri pada kepala, punggung perut bagian bawah, nyeri pada payudara gangguan saluran cerna (rasa penuh/kembung) diare, perubahan nafsu makan, sering merasa  lapar.
Gejala emosi dan perilaku mood menjadi labil , mudah tersinggung depresi,kecemasan, gangguan konsentrasi , insomnia. Tidak semua tanda dan gejala diatas selalu muncul, namun wanita dikategorikan mengalami sindroma premenstruasi jikadidapatkan satu gejala emosi dan satu gejala fisik yang dialami saat premenstruasi (6-10) hari menjelang menstruasi) setidaknya dua siklus berturut turut, berdampak negatif terhadap aktivitas harian, dan gejala menghilang setelah menstruasi berahkir. Kenali gejalanya dan jagalah kesehatan tubuh agar tidak drop saat menstruasi, sebab, tubuh wanita akan menjadi tidak setabil saat dia mengalami menstruasi sehingga rentan terhadap berbagai penyakit.

C.     Fisiologi Menstruasi
Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat berkembang menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSHsehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Produksi hormone gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh hormon LH dan LRH, Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan (Novaks Gynecology, 1996).
Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil. Namun perlu diingat bahwa jiwa remaja masih belum stabil dan belum mampu mandiri secara ekonomi maupun sosial. Jadi ia belum siap untuk hamil, yang terbaik adalah remaja putri mempersiapkan diri untuk mandiri, mencapai tingkat pendidikan yang diwajibkan yaitu paling sedikit 9 tahun, memasuki pernikahan yang direstui orang tua dan masyarakat, kemudian merencanakan kehamilan pada usia 20-30 tahun. Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan  kesehatan umum (Sarwono, 2005).

D.      Siklus Menstruasi
1.        Siklus Ovarium
a.        Fase folikel
Siklus diawali dengan hari pertama menstruasi atau lepasnya endometrium. Folicle Stimulating Hormone (FSH) merangsang beberapa pertumbuhan folikle premordial dalam ovarium dan hanya satu yang terus berkembang dan menjadi folicle de Graaf yang lain berdegenerasi. Lapisan dalam folikle mensintesis progresteron dan sebagai prekursor pada sintesis estrogen. Dalam folikle, oosit primer menjalani proses pematangan. Pada waktu yang sama, folikle yang sedang berkembang menskresi estrogen lebih banyak. Kadar estrogen yang meningkat menyebabkan pelepasan luteinizing hormone releasing hormone (LHRH) melalui umpan positif.


b.        Fase luteal
Dimulai setelah ovulasi berakhir pada awal menstruasi. Fase pasca ovulasi pada siklus ovarium biasanya berlangsung 14 hari (13-15 hari). Korpus luteum mencapai puncak aktivitas fungsional 8 hari setelah korpus luteum terus mensekresi sejumlah kecil estrogen dan progesteron yang makin lama makin tinggi. Luteinizing Hormone (LH) merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Kadar estrogen yang tinggi kini menghambat produksi FSH. Kemudian kadar estrogen mulai menurun. Saat oosit lepas dari folikel de Graaf, lapisan granulosa banyak mengandung pembuluh darah dan terluteinisasi berubah menjadi korpus luteum yang berwarna kuning pada ovarium. Bersamaan dengan waktu fungsi luteal puncak ini, telur yang dibuahi bernidasi di endometrium. Apabila tidak terjadi implantasi, korpus luteum berkurang dan kadar steroid menurun. Dua minggu setelah ovulasi, jika tidak terjadi fertilisasi dan implantasi, lapisan fungsional endometrium uterus tanggal selama fase haid berikutnya.

2.        Siklus Endometrium
Siklus menstruasi terdiri dari empat fase yaitu:
a.        Fase proliferasi
Setelah haid, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam stadium istirahat sekitar 5 hari. Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung sejak sekitar hari kelima hingga ovulasi, misal hari ke 10 siklus 24 hari, hari ke 14 untuk siklus 28 hari, atau 18 hari pada siklus 32 hari. Kadar estrogen yang meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang stroma endometrium untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar menjadi hipertropi dan berproliferasi dan pembuluh darah menjadi banyak sekali. Fase proliferasi tergantung pada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium (graaf). Lamanya proliferasi sangat berbeda pada tiap orang dan berakhir pada saat terjadinya ovulasi.
b.        Fase sekresi
Berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Setelah ovulasi, dibawah pengaruh hormon progesteron yang meningkat dan terus diproduksinya estrogen oleh luteum, maka endometrium menjadi tebal. Stroma menjadi edematus. Terjadi pula infiltrasi leukosit yang banyak, dan pembuluh darah semakin melebar dan merupakan tempat yang tepat untuk melindungi dan memberi nutrisi ovum yang sudah dibuahi. Implantasi (nidasi) ovum yang dibuahi terjadi sekitar tujuh sampai sepuluh hari setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron akan menyusut dan menyebabkan spasme pada arteri spiral. Lamanya fase sekresi sama pada setiap wanita yaitu 14 ±2 hari.
c.        Fase iskemi
Suplai darah ke endometrium fungsional berhenti dan terjadi nekrosis, lapisan fungsional terpisah dari lapisan basal dan peredaran haid dimulai, menandai hari pertama haid siklus berikutnya. Perubahan iskemik terjadi pada areteriola dan diikuti dengan haid.
d.       Fase haid
Korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke 23 atau ke 24 pada siklus 28 hari dan kemudian berdegerasi. Akibatnya terjadi penurunan yang tajam dari progesteron dan estrogen sehingga menghilangkan perangsangan pada endometrium.

Perubahan pada siklus menstruasi
Apabila sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium berfungsi dengan baik, jaringan lain mengalami respon yang dapat digunakan sebagai prediksi. Misalnya:
1.        Sebelun ovulasi: suhu basal wanita lebih rendah, sering kali dibawah 37°C
  1. Setelah ovulasi seiring peningkatan kadar progesteron, suhu basal meningkat
3.        Lendir pra-pasca ovulasi lengket sehingga menghambat penetrasi sperma
4.     Pada saat ovulasi lendir menjadi jernih dan cair, lendir terlihat, teraba dan meregang seperti putih telur (spinnbarkheit)
5.     Saat ovulasi beberapa wanita mengalami nyeri abdomen terlokasisasi yang disebut mittelachmerz

E.      Gangguan Menstruasi
1.        Pre menstruasi syndrome (PMS)
Gejala pre-menstruasi, dapat menyertai sebelum atau saat menstruasi, antara lain: Perasaan malas bergerak, badan menjadi lemas, serta mudah merasa lelah, nafsu makan meningkat dan suka makan makanan yang rasanya asam, emosi menjadi labil, mudah uring-uringan, sensitive dan perasaan-perasaan negative, kram perut (dismenorrhoe), kepala nyeri, pingsan, berat badan tambah, karena tubuh menyimpan air dalam jumlah yang banyak, pinggang terasa pegal.
2.        Dismenorea
Dismenorea disebut juga dengan kram menstruasi atau nyeri menstruasi. Dalam bahasa inggris dismenorea sering disebut juga sebagai “painful period” atau menstruasi yang menyakitkan (American Collage of Obstetritians and Gynecologist, 2015). Nyeri menstruasi terjadi terutama di perut bagian bawah, tetapi dapat membayar hingga ke punggung bagian bawah, pinggang , panggul, paha atas hingga betis. Nyeri juga bisa disertai dengan kram perut yang parah.
Proses ini sebenarnya merupakan bagian normal proses menstruasi, dan biasanya mulai dirasakan ketika mulai perdarahan dan terus berlangsung hingga 32-48 jam. Sebagian besar perempuan yang menstruasi pernah mengalami dismenorea dalam derajat yang berbeda-beda. Kebanyakan dialami oleh remaja yang disebabkan bukan karena penyakit yang disebut dengan Dismenorea Primer. Dismenorea primer pada perempuan yang sudah dewasa biasanya akan semakin berkurang rasa sakit dan nyerinya. Dismenorea primer juga makin berkurang pada perempuan yang sudah melahirkan.
Dismenorea yang disebabkan karena penyakit disebut dengan dismenorea sekunder. Pada wanita tua dismenorea dapat disebabkan oleh penyakit tertentu seperti fibrido uteru, radang panggul, dan kehamilan ektopik. Rasa sakit pada dismenorea sekunde biasanya berlangsung lebih lama dari dismenorea primer. Dimulai dari beberapa sebelum menstruasi dan akan hilang beberapa hari setelah menstruasi sudah selesai.
3.        Amenorea
Amenorea adalah keadaan dimana menstruasi berhenti atau tidak terjadi pada masa subur atau pada saat yang seharusnya menstruasi terjadi menstruasi secara teratur. Hal ini tentu saja tidak termasuk berhenti pada wanita yang sedang hamil, menyusui, atau menopause.
Amenorea dibedakan menjadi dua, yaitu amenorea primer dan sekunder. Amenorea primer adalah istilah yang digunakan untuk perempuan yang terlambat mulai menstruasi. Biasanya seorang perempuan mulai menstruasi mulai umur 10 tahun hingga 16 tahun, jika usianya sudah 16 tahun dan tidak menstruasi maka disebut dengan amenorea primer. Hal ini dapat terjadi akrena kelainan hormonal, gangguan kesehatan fisik atau masalah tekanan jiwa dan emosi.
Amenorea sekunder adalah berhenti menstruasi paling tidak selama 3 bulan berturut-turut, padahal sebelumnya sudah pernah mengalami menstruasi. Dapat disebabkan oleh rendahnya hormon pelepas gonadotropin yang salah satu fungsinya untuk mengatur siklus menstruasi. Di samping itu dapat disebabkan oleh stress, anoreksia, penurunan berat badan, olahrag berat, pil KB dan kista ovarium.
4.        Polimenorea
Polimenorea merupakan kelainan siklus menstruasi yang menyababkan wanita berkali-kali mengalami menstruasi dalam sebulan bisa 2-3 kali/bulan bahkan bisa lebih. Normalnya, siklus menstruasi berlangsung selama 21-35 hari dengan durasi sekitar 2-8 hari. Wanita yang mengalami polimenorea memiliki siklus menstruasi yang lebih pendek dari 21 hari dengan pola teratur dan jumlah perdarahan lebih banyak dari biasanya.Polimenorea bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan sistem hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Ketidakseimbangan hormon tersebt dapat menyebabkan gangguan pada waktu ovulasi.
5.        Menoragia
Menoragia adalah perdarahan menstruasi berlebihan. Dalam satu siklus menstruasi normal, perempuan rata-rata kehilangan sekitar 30-40 ml darah selama 5-7 hari haid. Bila perdarahan melampaui 7 hari atau terlalu deras (melibihi 80ml), maka dikategorikan menoragia atau mentruasi berat (Marret et al, 2010).
Menentukan berapa anyakdarah yang dikeluarkkan saat haid tentunya tidaklah mudah untuk kalangan orang awam, namum untuk memudahkan nya maka harus memperhatikanlah indikasi-indikasi tertentu seperti banyak jumlah pembalut yang dipakai. Menstruasi dianggap berat jika anda harus mengganti pembalut setiap jam atau setiap jam berturut-turt. Gejala lain dari menstruasi berlebihan dapat mencakup perdarahan pada malam hari, adanya gumpalan darah besar saat menstruasi, haid berlangsung lebih dari tuujuh hari. Kehilangan darah dari menstruasi berlebihan dapat menyebabkan anemia serta gejala seperti kelelahan dan sesak nafas.

F.       Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi
Banyak penyebab kenapa siklus menstruasi menjadi panjang atau sebaliknya pendek menurut (Kusmiran, 2011; Proverawati dan Misaroh, 2009) yaitu:
1.        Fungsi hormon terganggu yaitu menstruasi terkait erat dengan sistem hormon yang diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisis. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi sel telur.
2.        Kelainan sistemik yaitu ada wanita yang tubuhnya sangat gemuk dan kurus. Hal ini mempengaruhi siklus menstruasinya karena sistem metabolisme di dalam tubuhnya tidak bekerja dengan baik atau wanita menderita penyakit diabetes, juga akan mempengaruhi sistem metabolisme wanita sehingga siklus menstruasinya pun tidak teratur.
3.        Stress, jangan dianggap enteng sebab akan menggangu sistem metabolisme didalam tubuh. Bisa saja karena stres, wanita jadi mudah lelah, sehingga metabolismenya terganggu. Bila metabolisme terganggu, siklus menstruasi pun ikut terganggu.
4.        Hormon prolaktin berlebihan pada ibu menyusui, produksi hormon prolaktinnya cukup tinggi. Hormon prolaktin ini sering kali membuat ibu tidak kunjung menstruasi karena memang hormon ini menekan tingkat kesuburan ibu. Pada kasus ini tidak masalah, justru sangat baik untuk memberikan kesempatan pada ibu guna memelihara organ reproduksinya. Sebaliknya, jika tidak sedang menyusui, hormon prolaktin juga bisa tinggi, biasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala.
5.        Berat badan dan perubahan berat badan memengaruhi fungsi menstruasi. Penurunan berat badan akut dan sedang menyebabkan gangguan pada ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium dan lamanya penurunan berat badan. Kondisi patologis seperti berat badan yang kurus dan anorexia nervosa yang menyebabkan penurunan berat badan, yang paling berat dapat menimbulkan amenorea.
6.        Tingkat aktivitas fisik yang sedang dan berat dapat membatasi fungsi menstruasi. Wanita yang berpartisipasi dalam olahraga kompetitif memiliki resiko yang tinggi terjadinya atau berkembangnya gangguan makan, iregularitas siklus menstruasi dan osteoporosis. Olahraga berlebih dapat menyebabkan terjadinya gangguan disfungsi hipotalamus yang menyebabkan gangguan sekresi GnRH. Hal tersebut menyebabkan terjadinya menarche yang tertunda dan gangguan siklus menstruasi.
7.        Diet dapat memengaruhi fungsi menstruasi. Vegetarian berhubungan dengan anovulasi, penurunan respons hormone pituitary, fase folikel yang  pendek, tidak normalnya siklus menstruasi (kurang dari 10 kali/tahun). Diet rendah lemak berhubungan dengan panjangnya siklus menstruasi dan periode perdarahan. Diet rendah kalori seperti daging merah dan rendah lemak berhubungan dengan amenorea.
8.        Adanya penyakit-penyakit endokrin seperti diabetes, hipertiroid, serta hipertiroid yang berhubungan dengan gangguan menstruasi. Prevalensi amenorea dan oligomenorea lebih tinggi pada pasien diabetes. Penyakit polystic ovarium berhubungan dengan obesitas, resistensi insulin, dan oligomenorea. Amenorea dan oligomenorea pada perempuan dengan penyakit polystic ovarium berhubungan dengan insensitivitas hormone insulin dan menjadikan perempuan tersebut obesitas. Hipertiroid berhubungan dengan oligomenorea dan lebih lanjut menjadi amenorea. Hipotiroid berhubungan dengan polimenorea dan menoraghia.


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Menstruasi adalah pendarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Ada beberapa gangguan menstruasi  yaitu dismenorea, amenorea,polimenorea, dan menoragia. Siklus menstruasi ada beberapa yatu siklus ovarium, fase luteal, dan siklus endometrium, sedangkan fase-fasenya ada beberapa yaitu fase proliferasi, fase sekresi, fase iskemi dan fase haid. Gejala-gejala menstruasi adalah mudah tersinggung, perasaan sedih, emosi, perubahan perilaku.

B.      Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah:
1.        Kepada setiap perempuan, agar selalu memperhatikan siklus haidnya untuk menghindari terjadinya gangguan-gangguan yang berhubungan dengan haid.
2.        Untuk menghindari terjadinya sindrom pra-haid, setiap perempuan dianjurkan untuk melakukan perubahan-perubahan diet atau mengatur pola makan.
3.        Kepada setiap orang tua, terutama orang tua perempuan agar dapat menjelaskan tentang haid kepada anak-anaknya sedini mungkin untuk mengurangi rasa takut yang sering dialami oleh anak-anak ketika menghadapi menarche (haid yang pertama kali datang).
4.        Kepada tenaga kesehatan, agar dapat menjelaskan mengenai segala hal yang berhubungan dengan haid, terutama gangguan-gangguan selama haid.


DAFTAR PUSTAKA

Sukarni, icemi. Wahyu P. 2013. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta:  Nuha Medika.
Indriyani, Diyan. 2013. Keperawatan Maternitas pada Area Perawatan Antenatal. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Masturi. 2017. Hubungan Tingkat Stres Dengan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Keperawatan Semester VIII UIN Alaudin Makassar.  Skripsi. Yogyakarta: FKIK UIN Alaudin Makassar.
Sinaga, Ernawati, Nonon Saribanon, dkk, 2017, Managemen Kesehatan Menstruasi. Jakarta:Global one.

No comments:

Post a Comment